Cool Pandan Valley atau Community Of Love Pandan Valley adalah transformasi dari Family Altar (FA) yang adalah komunitas sel dalam GBI Bukit Cimanggu yang berlokasi di Perumahan Pandan Valley, Bogor. Yang mengalami kasih Tuhan. COOL adalah ‘kendaraan baru’ yang diberikan Tuhan kepada jemaatNya agar mampu melintasi bukit-bukit (Yesaya 58:14), yang dimaksud adalah komunitas yang akan dipakai Tuhan untuk membawa dampak bagi lingkungannya. Kerinduan kami adalah mempraktekkan gaya hidup Allah dalam kehidupan sebuah komunitas. Untuk bergabung atau informasi lebih lanjut hubungi kami via email di coolpandanvalley@gmail.com atau add kami di Facebook. Tuhan Yesus Memberkati..!

Senin, 13 Juni 2011

Bahan Cool Minggu III Juni 2011


 BERANI BAYAR HARGA

"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. (Matius 13:44-52)

PENDAHULUAN 5 Menit
 
Beberapa waktu lalu kita sudah belajar bahwa Kerajaan Allah/Sorga berbeda dengan Sorga itu sendiri. Sorga adalah tempat di mana kelak orang-orang benar hidup dalam kekekalan bersama Yesus. Tetapi Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga adalah suatu gaya hidup orang benar di bumi, yang sama dengan gaya hidup di Sorga (berarti gaya hidup yang serupa Kristus). Setiap kali terjadi seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, sebenarnya saat itu juga mereka masuk ke dalam Kerajaan Allah (sekalipun mereka masih hidup) karena sejak saat itu, mereka tidak lagi hidup menurut nilai-nilai kerajaan dunia, tetapi hidup dengan nilai-nilai yang berlaku di Sorga.
 
ISI DAN SHARING 30 Menit
 
Ada pernyataan lama, “untuk sesuatu yang berharga, seseorang pasti rela membayar berapa saja, asalkan hal itu menjadi miliknya.” Memang betul, Firman Tuhan di atas juga berkata seperti itu. Mengapa? Karena Kerajaan Allah itu begitu berharga. Apa maksudnya jika kita refleksikan ke dalam hidup sehari-hari?

1. Berani menyerahkan segalanya untuk Tuhan (Matius 13:44 dan Matius 16:24)
 
Setiap kita yang menerima Yesus, maka kita haruslah menyangkal diri (berkata tidak terhadap keinginan-keinginan pribadi), memikul salib (menerima tanggung jawab dan melayani seperti Yesus), dan mengikut Dia (hidup menurut teladan Yesus). Bila masih ada yang kita pertahankan seperti hak, pembelaan diri, nama besar, iri hati, cepat tersinggung, hobi yang lebih penting dari Tuhan, berarti kita belum sepenuhnya mengikut Dia.

2. Berani menggantikan sifat/karakter lama dengan sifat/karakter baru, yaitu karakter Kristus (Matius 13:52 dan Lukas 6:45)

“Perbendaharaan” bicara juga mengenai apa yang ada di dalam hati (juga pikiran) kita. Manusia lama dipenuhi oleh sifat/perkataan/tabiat/niat yang jahat, karena manusia lama adalah manusia yang hidup menurut daging (Galatia 5:19-21). Tetapi manusia baru adalah hidup menurut buah Roh (Galatia 5:22-23). Mengganti perbendaharaan bukanlah pekerjaan sulap (sekali doa berubah, sudah ikut KKR/HMC/KOM langsung berubah), tetapi merupakan suatu proses, lewat ujian-ujian masalah dan tekanan. Ini berlaku untuk semua orang, bahkan seorang ‘ahli Taurat’ (orang yang mungkin sudah tahu banyak Firman), ia harus mengganti sendiri perbendaharaan (sifat) lamanya dengan yang baru.

KESIMPULAN DAN SALING MENDOAKAN
 
Yesus sudah membuktikan betapa Ia berani bayar berapapun harganya untuk menebus kita kembali. Kini bagian kita menunjukkan kasih kita kepada-Nya. Ini waktunya kita meninjau kembali perjalanan rohani kita selama ini.

Sharingkan: Sudah berapa jauhkah Anda berani bayar harga bagi Yesus lewat hidup
Anda?

Tuhan Yesus memberkati.

Minggu, 12 Juni 2011

Kisah Pencuri Kue


Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara lalu menemukan tempat untuk duduk. Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya.

Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka.Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.

Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir Kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia! Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu. Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah ia tidak kelihatan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal.

Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih!".Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya. Koq milikku ada di sini erangnya dengan patah hati, Jadi kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi.Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu.

Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri/subjektif serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya. Orang lainlah yang selalu salah, orang lainlah yang patut disingkirkan, orang lainlah yang tak tahu diri, orang lainlah yang berdosa, orang lainlah yang selalu bikin masalah, orang lainlah yang pantas diberi pelajaran. Padahal kita sendiri yang mencuri kue tadi, padahal kita sendiri yang tidak tahu. Kita sering mempengaruhi, mengomentari, mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.

Sabtu, 11 Juni 2011

Lepaskan




Suatu hari, seorang anak kecil sedang bermain-main dengan sebuah vas bunga yang sangat mahal. Ia memasukkan tanggannya ke dalam vas bunga dan..ops.. tidak dapat menariknya keluar kembali. Ia mulai menangis dan menarik perhatian ayahnya. Sang ayah mencoba membantu sekuat tenaga menarik tangan anaknya dari vas bunga, namun gagal. Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, akhirnya mereka berpikir untuk memecahkan saja vas bunga mahal itu.

Tapi tiba-tiba, sang ayah mendapat ide, "Nah begini saja anakku, kita coba sekali lagi. Lepaskan genggaman tanganmu yang ada di dalam vas itu. Luruskan telapak tanganmu seperti ini, " kata sang ayah sambil menunjukkan telapak tangannya. "Lalu ..hopla..tariklah keluar." Mendengar itu si anak malah merengek yang membuat sang ayah keheranan. Katanya, "Nggak bisa yah! Aku nggak bisa melepaskan genggamanku karena nanti uang receh yang aku pegang ini bisa terlepas lagi."

Bukankah banyak dari kita yang bertingkah seperti anak kecil  tadi. Begitu sibuk menggenggam sesuatu yang kita anggap penting namun rela  mengorbankan kebebasan dan harga diri kita..…

Jumat, 10 Juni 2011

Get a bigger frying pan



Two men went fishing. One man was an experienced fisherman, the other wasn't. Every time the experienced fisherman caught a big fish,   he put it in his ice chest to keep it fresh. Whenever the inexperienced fisherman caught a big fish, he threw it back.

The experienced fisherman watched this go on all day and finally got tired of seeing this man waste good fish. "Why do you keep throwing back all the big fish you catch?" he asked. The inexperienced fisherman replied, "I only have a small frying pan."

Sometimes, like that fisherman, we throw back the big plans, big dreams, big jobs, big opportunities that God gives us. Our faith is too   small. We laugh at that fisherman who didn't figure out that all he needed was a bigger frying pan; yet how ready are we to increase the size of our faith?

Whether it's a problem or a posibility, God will never give you anything bigger than you can handle. That means we can confidently walk into   anything God brings our way. You can do all things through Christ (Philippians 4:13). 

Nothing is too big for God.

Kamis, 09 Juni 2011

Bahan Cool Minggu II Juni 2011


TANTANGAN = BERKAT!

Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air. Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: "Apakah yang akan kami minum?" (Keluaran 15:22-24)
 
PENDAHULUAN 5 Menit

Kisah keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir, menjadi gambaran bagi kita tentang bagaimana perjalanan kehidupan orang percaya yang harus melewati banyak tantangan untuk melihat dan menerima berkat dari Tuhan. Setiap orang percaya harus mampu menghadapi semua tantangan dalam kehidupannya. Bangsa Israel telah menyeberangi Laut Teberau yang di pimpin oleh Musa dengan penyertaan Tuhan. Mereka melintasi Laut Teberau dengan selamat, suatu tantangan telah dapat mereka lewati. Sungguh merupakan suatu kemenangan dan sukacita besar bagi mereka. Setelah itu, mereka harus meneruskan perjalanannya dengan menghadapi tantangan lain. Bangsa Israel banyak mengalami peristiwa-peristiwa, dan menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanannya untuk mencapai tanah perjanjian, yaitu Tanah Kanan.
 
Mungkin kita pun mengalami hal yang sama seperti bangsa Israel. Masuk dari satu tantangan ke tantangan berikutnya. Yang menjadi permasalahan, apakah kita menyerah atau terus maju? Apa reaksi yang sering muncul ketika tantangan ada di depan mata Anda? (Sharingkan)

ISI DAN SHARING 30 Menit
 
Bagaimana mengubah tantangan menjadi berkat dalam hidup kita?
 
1. Menyadari bahwa tantangan adalah kesempatan 
Banyak dari kita sering menganggap bahwa tantangan itu adalah sesuatu yang harus dihindari bukan untuk dihadapi, sehingga ketika tantangan itu ada, kita lebih cenderung untuk menghindar. Prinsip yang harus dimiliki, kita harus menganggap bahwa tantangan adalah kesempatan untuk menuai berkat dari Tuhan. Ketika kita mempunyai paradigma yang sudah diubahkan, maka masalah atau tantangan seberat apapun dapat kita hadapi, karena dibalik tantangan ada kesempatan untuk mendapatkan berkat dari Tuhan.

2. Jangan bersungut-sungut (Keluaran 15:24)
 
Berapa banyak waktu yang kita pakai untuk mengeluh dan bersungut-sungut ? Ini sebuah pertanyaan yang harusnya muncul ketika kita akan bersaat teduh dan saat merebahkan diri untuk tidur di malam hari. Berapa banyak kita mengeluh atau bersungut-sungut tentang pekerjaan, tentang waktu yang dihabiskan untuk mengurus rumah tangga, anak-anak mengeluh karena harus mengerjakan tugas-tugas sekolah, dan lain-lain. Dan hal itu berlangsung sepanjang hari. Bangsa Israel pun mengeluh dan bersungut-sungut setelah semua yang telah Allah lakukan bagi mereka saat seharusnya mereka berterima kasih dan menaati-Nya. Akhirnya karena ketidakpercayaan dan ketidaktaatan mereka, seluruh generasi itu tidak pernah mencapai Tanah Perjanjian. Pada zaman sekarang ini, banyak juga orang yang sering bersungut-sungut sehingga mereka kehilangan berkat-berkat Allah. Sikap semacam ini seharusnya tidak dimiliki oleh setiap orang percaya. Seberapa sering Anda bersungut-sungut dalam satu hari? Usaha apa yang akan Anda lakukan agar tidak sering bersungut-sungut dan mengeluh? (Sharingkan dengan terbuka bersama sesama anggota COOL).
 
KESIMPULAN DAN SALING MENDOAKAN
 
Tantangan akan selalu ada dalam setiap kehidupan umat manusia. Satu hal
yang perlu kita sadari, Tuhan Yesus selalu menyertai kita.

Bahan Cool Minggu I Juni 2011


 MENABUR ADALAH KEHENDAK TUHAN PADA MASA KINI


Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. (Amsal 11:25)

PENDAHULUAN 5 Menit
Menabur adalah sesuatu yang dikehendaki Tuhan bagi setiap orang percaya, bukan karena kita supaya diberkati tetapi lebih dari pada itu kita menabur karena mengasihi Tuhan Yesus, sebab Yesus sudah terlebih dahulu memberi dan mengasihi kita. Orang yang tahu mengucap syukur dan berterima kasih harusnya memiliki respons atau sikap hati yang benar. Yesus mengajarkan kepada setiap kita untuk bisa menjadi berkat dengan cara menabur (memberi). Memberi seperti apakah yang Tuhan inginkan?
ISI DAN SHARING 30 Menit
Ada beberapa cara memberi yang Tuhan kehendaki :
1. Memberi dengan kerelaan hati (2 Korintus 9:7)
Sukarela berarti tulus. Orang yang memberi dengan tulus pastinya tidak mengharapkan imbalan apapun dari yang diberi. Rasul Paulus dalam 2 Korintus 9:7 mengajarkan kepada setiap orang Makedonia agar mereka memberi dengan sukarela, sehingga mereka memiliki motivasi yang benar ketika mereka sedang memberi (menabur). Berapa banyak dari kita yang sering mengharapkan imbalan ketika sudah memberi, baik bagi orang lain ataupun kepada Tuhan. Ketika Tuhan atau orang lain tidak membalas apa yang kita lakukan, biasanya reaksi yang pertama kali muncul marah dan kecewa. Apakah Anda sering mengalami hal yang seperti ini?
(Sharingkan)

2. Memberi yang terbaik (Matius 5:41)
Apa yang ada dalam pikiran Anda tentang kata yang terbaik? (Sharingkan) Memberi yang terbaik adalah memberikan segala sesuatu yang kita miliki bagi Tuhan ataupun orang lain melebihi dari apa yang diharapkan. "Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil" (Matius 5:41). Artinya memberi di atas rata-rata. Paulus mengingatkan kita di 2 Korintus 9:6, jika ingin mendapatkan yang terbaik, jangan takut untuk menabur tanpa menghitung-hitung. Apa yang terbaik yang kita bisa berikan, berikanlah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan (Kolose 3:23).
KESIMPULAN DAN SALING MENDOAKAN
Menabur (memberi) adalah satu keharusan bagi setiap kita orang percaya, karena Yesus
pun sudah memberi segalanya bagi kita. Amin.

Selasa, 07 Juni 2011

Kisah di balik lukisan perjamuan terakhir



Lukisan "Perjamuan Terakhir" diciptakan oleh Leonardo da Vinci, seorang artis Italia yang terkenal.  Lukisan ini dibuat selama 7 tahun dan menggambarkan kedua belas rasul serta Kristus sendiri. Mereka dilukis berdasarkan model orang hidup.

Pertama-tama Da Vinci memilih untuk melukis Kristus. Ratusan anak muda diamati untuk mencari pola wajah dan kepribadian yang cocok, tidak tercemar oleh dosa. Akhirnya setelah berminggu-mingu ada seorang pemuda 19 tahun yang terpilih menjadi model potret Kristus, dia dilukis selama enam bulan dengan serius.

6 tahun kemudian, Da Vinci masih berkecimpung dengan pekerjaannya. Satu demi satu dia mencari tokoh2 yang tepat sebagai perlambang kesebelas rasul, akhirnya tinggallah tokoh Yudas Iskariot, sang murid yang mengkhianati Tuhan dengan imbalan 30 keping perak (setara US$16,95).

Selama berminggu-minggu Da Vinci mencari2 orang berwajah keras, penipu dan suka berkhianat. Akhirnya dia menemukan sesosok pria di penjara bawah tanah Roma yang dijatuhi hukuman mati sebagai penjahat/pembunuh. Ketika Da Vinci memandangnya di dalam kegelapan bawah tanah, pria itu tampak tak terurus, rambut tak disisir menutupi raut mukanya, raut yang kejam dan bejat. Inilah sosok yang dapat mewakili Yudas Iskariot dalam lukisannya.

Atas seizin raja, tahanan ini dibawa ke Milan untuk dilukis selama 6 bulan. Saat menyelesaikan sapuan terakhir, Da Vinci berkata kepada pengawal, "Saya sudah selesai.  Bawalah tahanan ini keluar."

Saat itu si tahanan mendadak melepaskan diri dari pengawalan dan berlari ke Da Vinci sambil menangis, "Oh Da Vinci, pandanglah saya! Apakah anda tidak tahu siapa diri saya sebenarnya?"

Dengan mata terlatih, Da Vinci mengamati wajahnya.  "Tidak, saya tidak pernah melihat Anda sebelumnya hingga Anda diizinkan keluar dari penjara bawah tanah Roma."

Sambil menengadahkan wajah ke atas, tahanan itu menangis dan berdoa, "Ya Tuhan, apakah saya sudah terjatuh begitu dalamnya?" Lalu ia memandang kembali sang pelukis dan menangis, "Da Vinci, saya adalah anak muda yang pernah Anda lukis 7 tahun lampau sebagai perlambang Kristus!"

Inilah kisah nyata di balik lukisan Perjamuan Cinta Kasih, yang mengajarkan kita tentang besarnya pengaruh pemikiran yang benar dan salah bagi seseorang. Anak muda yang tadinya begitu murni dan tidak tercemar dosa dunia, tujuh tahun berikutnya jatuh ke dalam dosa dan kejahatan. Dia pun berubah, dari perlambang Kristus menjadi karakter Yudas Iskariot.