Cool Pandan Valley atau Community Of Love Pandan Valley adalah transformasi dari Family Altar (FA) yang adalah komunitas sel dalam GBI Bukit Cimanggu yang berlokasi di Perumahan Pandan Valley, Bogor. Yang mengalami kasih Tuhan. COOL adalah ‘kendaraan baru’ yang diberikan Tuhan kepada jemaatNya agar mampu melintasi bukit-bukit (Yesaya 58:14), yang dimaksud adalah komunitas yang akan dipakai Tuhan untuk membawa dampak bagi lingkungannya. Kerinduan kami adalah mempraktekkan gaya hidup Allah dalam kehidupan sebuah komunitas. Untuk bergabung atau informasi lebih lanjut hubungi kami via email di coolpandanvalley@gmail.com atau add kami di Facebook. Tuhan Yesus Memberkati..!

Kamis, 28 Juli 2011

Jangan Ragukan Kasih Allah


Tidak seperti di malam-malam sebelumnya, Andre menghampiri ayahnya yang sedang menyelesaikan pekerjaan kantor untuk keesokan harinya. Dengan langkah gontai, bocah berusia 7 tahun itu berjalan menuju tempat dimana sang ayah berada.

Sesampainya di ruangan, Andre lalu menangis tersedu-sedu di samping kursi sang ayah. Kaget mendengar tangisan anaknya, sang ayah pun mengangkat badan buah hatinya tersebut dan menaruhkannya di paha kanannya. Dengan nada bicara yang penuh kelembutan, ayahnya menanyakan kondisi Andre.

“Nak, kamu kenapa nangis?,” ujar sang ayah.   

Sambil terisak-isak, Andre menjawab pertanyaan ayahnya, “Andre menangis karena ayah gak sayang Andre”.

Mendengar jawaban sang anak, Ayahnya pun kembali melontarkan pertanyaan, “Mengapa kamu bisa bicara seperti itu?”

Andre yang masih menangis berkata, “Hanya perasaan aku saja”

Sang ayah pun tersenyum dan mulai memeluk erat anaknya tersebut, “Andre, andre. Ayah tuh sayang banget sama kamu”

“Apakah selama ini, ayah berlaku jahat sama kamu? Kalau ayah pernah memukul kamu, itu pun kalau kamu berbuat nakal. Ayah melakukan itu bukanlah karena ayah membenci kamu tapi karena ayah ingin kamu sadar dengan perbuatan kamu tersebut”

“Kamu buang-buang jauh perasaan kamu itu. Ingat ya Andre, ayah tuh sangat sayangggg sama kamu,” ujar ayah sambil memeluk erat anaknya itu.

Perlahan tapi pasti, volume tangisan Andre semakin berkurang. Tak menunggu waktu lama, wajahnya kembali sumringah. Andre pun menghadiahkan ciuman ke pipi ayahnya sebagai bentuk tanda ia juga mengasihi ayahnya. Malam itu pun dilalui Andre dan sang ayah dengan tidur bersama di ruang kamar tidur buah hatinya.

Tanpa kita sadari, kita suka melakukan kepada Allah, perbuatan yang seperti apa di oleh Andre kepada ayahnya. Kita menangis dan meragukan kasih setia-Nya ketika keinginan doa-doa kita tidak terkabulkan. Padahal, DIA sudah berulang-ulang kali menunjukkan rasa cinta-Nya kepada kita.

Kematian Tuhan Yesus di kayu salib ribuan tahun yang lalu adalah bukti paling terbesar bagaimana ia begitu menyayangi kita. Jika begini, haruskah kita meragukan kasih-Nya dalam hidup kita?  

Rabu, 27 Juli 2011

Secangkir Kopi Dari Tuhan


Sekelompok alumni, yang sangat mapan dalam karir, berkumpul dan mengunjungi professor mereka di universitas. Pembicaraan hangat mulai terjadi dan mengarah bagaimana mereka mengeluh tentang tekanan dalam hidup dan pekerjaan mereka.

Profesor itu menawarkan tamu-tamunya kopi, lalu dia pergi ke dapur dan kembali dengan seteko kopi dan bermacam-macam cangkir – poselain, plastik, beling, kristal, beberapa terlihat biasa, beberapa mahal, dan beberapa tampak indah – lalu meminta mereka untuk menuang kopinya sendiri.

Ketika semua mantan muridnya itu sudah memegang cangkir kopi ditangannya, professor berkata:

“Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal di gunakan, dan menyisakan cangkir yang mudah dan biasa saja. Meskipun normal kalau kamu ingin yang terbaik untuk diri sendiri, namun itu menjadi sumber masalah dan stress kamu.

Yakinlah bahwa cangkir itu sendiri tidak menambah kualitas kopi itu. Dalam kebanyakan kasus hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus malah menyembunyikan apa yang kita makan.

Apa yang kamu inginkan sebenarnya adalah kopi, bukan cangkirnya, tetapi kamu terfokus pada cangkir yang terbaik… Dan kemudian kamu mulai melihat kopi orang lain.

Sekarang pertimbangkanlah hal ini: Kehidupan itu adalah kopinya; pekerjaan, uang dan posisi dalam komunitas adalah cangkirnya. Mereka hanyalah alat untuk menampung dan tidak mengandung kehidupan, dan tipe cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan siapa kita, dan tidak juga mengubah kualitas kehidupan yang kita jalani.

Kadang-kadang, dengan konsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita.”

Tuhan menyediakan kopinya, bukan cangkirnya… Nikmati kopi Anda!

“Orang paling bahagia bukanlah mereka yang mendapatkan semua yang terbaik, tetapi mereka yang melakukan yang terbaik dengan semua yang mereka dapatkan.”

Hiduplah sederhana. Kasihilah dengan murah hati. Berikan kepedulian yang tulus. Bicaralah yang manis. Dan serahkan sisanya kepada Tuhan.


Sumber : rogerknapp.com

Selasa, 26 Juli 2011

Toko Grosir Sorgawi



Dulu aku pernah berjalan di jalan raya kehidupan. Suatu hari aku melihat sebuah papan iklan yang tertulis, “Toko Grosir Sorgawi.”

Ketika aku sedikit mendekat, pintu langsung terbuka lebar dan ketika aku melihat pada diri sendiri, aku sudah berada di dalam.

Aku melihat sejumlah malaikat, mereka berdiri dimana-mana. Salah satunya menyodorkan sebuah keranjang belanja sambil berkata, “Anak-Ku, berbelanjalah denga bijak.” Di dalam toko itu tersedia semua yang dibutuhkan oleh orang Kristen. Dan jika Anda tidak bisa mengambil semuanya sekarang, Anda bisa kembali lagi nanti.

Pertama aku mengambil beberapa “Kesabaran”. “Kasih” ada di rak yang sama. Di rak bagian bawah ada “Pengertian”, Anda akan memerlukannya kemanapun Anda pergi.

Aku juga mengambil sekotak “Hikmat”, satu atau dua kantong “Iman.” Aku tidak bisa kehilangan Roh Kudus, Dia ada di semua sudut tempat itu. Aku berhenti sebentar untuk mengambil “Kekuatan” dan “Keberanian” untuk membantuku memenangkan pertandingan dan sekalipun keranjangku sudah penuh, aku ingat untuk mengambi beberapa “Kasih Karunia.”

Aku tidak melupakan “Keselamatan,” untuk keselamatan ini diberikan gratis. Jadi, aku mencoba mendapatkannya secukupnya hingga aku dan kamu aman. Kemudian aku menuju ke kasir untuk membayar semua barang yang aku ambil ini, karena aku pikir aku telah mendapatkan semua yang ku butuhkan untuk melakukan kehendak Tuan-ku.

Saat aku melewati sebuah gang, aku melihat “Doa” dan aku langsung memasukkannya ke keranjang, karena aku tahu begitu aku keluar, aku akan bergumul dengan “Dosa.” “Kedamaian” dan “Sukacita” ada sangat banyak, mereka berada di rak paling akhir. “Lagu” dan “Pujian” digantung di dekatnya jadi aku tinggal meraihnya.

Kemudian aku bertanya kepada malaikat (di kasir), “Sekarang berapa banyak yang harus aku bayar?”

Dia hanya tersenyum dan berkata, “Tinggal bawa saja semuanya!”

Saya tersenyum juga padanya dan bertanya lagi, “Berapa sebenarnya yang harus saya bayar?”

Malaikat itu tersenyum kembali dan berkata, “Anak-Ku, Yesus sudah membayar semua tagihanmu sejak lama.”

Hikmat:
Ketika Anda menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, Tuhan sudah menyediakan segala yang Anda butuhkan untuk menjalani kehidupan untuk menggenapi rencana-Nya, Anda tinggal mengambilnya.

Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin. ~ Ibrani 13: 20-21


Sumber : Adaptasi dari Inspirationalarchive.com

Senin, 25 Juli 2011

Lubang Paku Di Pagar


 Ada seorang anak laki-laki yang memiliki temperamen yang sangat buruk, dia seorang pemarah. Suatu saat ayahnya ingin mengajarkan sebuah pelajaran kepadanya, jadi dia memberikan sekantong paku kepada anaknya dan mengatakan setiap kali dia tidak bisa mengendalikan amarahnya, dia harus memakukan sebuah paku di pagar kayu rumah mereka.

Di hari pertama pelajaran itu, anak laki-laki itu menancapkan 37 paku di pagar karena dia sangat marah. Melewati pelajaran itu selama beberapa minggu, akhirnya anak itu mulai dapat mengontrol emosinya, sehingga jumlah paku yang dipalukan ke pagar semakin berkurang.

Tidak lama setelah itu, anak itu menyadari bahwa lebih mudah untuk mengendalikaan emosinya daripada harus menancapkan paku ke pagar. Sampai suatu saat dia tidak lagi pemarah, dia sangat bangga dengan dirinya sendiri dan ingin segera memberitahu ayahnya. Senang dengan pencapaiannya, ayahnya menyuruhnya untuk mencabut kembali paku-paku yang ada dipagar yang ditancapkan pada saat dia marah.

Beberapa minggu kemudian, ketika  dia memberitahu ayahnya bahwa semua paku sudah berhasil dicabutnya. Dengan lembut, sang ayah menuntun anaknya menuju pagar rumah mereka. Sambil tersenyum ayahnya berkata,"Kamu sudah mengerjakan dengan baik, anakku. Tetapi coba lihat ada banyak sekali lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan terlihat sama lagi."

Anak itu memperhatikan ketika ayahnya melanjutkan kata-katanya," Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-kata itu akan meninggalkan bekas yang permanent. Tidak peduli berapa kali kamu berkata maaf, lubang itu akan tetap di sana."

Hendaknya kita bijaksana dengan kata-kata kita karena kata-kata kita bisa melukai orang lain. "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus  1:19-20).


Sumber : spiritual-short-stories.com

Senin, 20 Juni 2011

Bahan Cool Minggu IV Juni 2011


TOTALITAS

Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. (Matius 13:44b)

PENDAHULUAN 5 Menit
 
Kerajaan Allah berbicara mengenai keselamatan, damai sejahtera, iman, dan sukacita karena kita telah dipilih, dipanggil, dan diselamatkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Dari perumpamaan dari Tuhan Yesus, dikatakan bahwa karena sukacita, orang yang telah menemukan Kerajaan Allah itu menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Perumpamaan ini berbicara mengenai memberi diri sepenuhnya bagi Tuhan Yesus Kristus.

ISI DAN SHARING 30 Menit
 
Bagaimana cara kita memberi diri dan mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati? 
1. Pelihara roh, jiwa, dan tubuh kita (1 Tesalonika 5:23)
 
Tentu kita semua menanti-nantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus menjemput kita segera. Firman Tuhan katakan agar roh, jiwa, dan tubuh kita terpelihara, kudus, dan tak bercacat saat kedatangan-Nya. Memelihara roh artinya kita jangan mengandalkan kekuatan manusia sehingga mulai mendukakan Roh Kudus. Memelihara jiwa artinya menjaga panca indera kita dari masukan yang di luar kebenaran Firman Tuhan. Serta memelihara tubuh artinya kita hidup sehat dan menjaga makanan kita. Gembala Sidang mengingatkan kita jangan hidup untuk makan, tapi makan secukupnya untuk hidup.

2. Melalui doa, pujian, dan penyembahan
 
Gereja kita adalah gereja yang memiliki ciri doa, pujian, dan penyembahan bersamasama untuk mempersiapkan gereja menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali. Doa, pujian, dan penyembahan sangat penting karena melaluinya kita bersyukur akan kehadiran Allah, bukan sekedar akan apa yang telah Allah berikan kepada kita, tapi kita bersyukur akan diri pribadi Allah sendiri yang ada bersama kita.

3. Mendengar suara Tuhan
 
Saat kita mendengarkan dengan sungguh, maka kita sedang berkata kepada Allah bahwa "Engkau berharga bagiku." Saat kita hendak membuat keputusan apa pun, kita berhenti sejenak dan bertanya kepada Tuhan terlebih dahulu akan apa yang ingin Dia nyatakan kepada kita (Mazmur 116:1-2; Yesaya 50:4).

4. Memberi
 
Memberi itu berbicara mengenai bersaksi, mau melayani, dan berkontribusi sekecil apa pun (baik dalam gereja, COOL, lingkungan), serta menabur secara materi. Kita memberi bukan karena kita mengharapkan berkat, tapi kita memberi karena kita mengasihi Allah 100%. Berkat adalah akibat, dan bukan tujuan kita memberi. Dengan memberi, kita mengakui bahwa segala sesuatu yang kita miliki itu berasal dari Tuhan. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36)
 
KESIMPULAN DAN SALING MENDOAKAN
 
Mari kita memberikan diri kita sepenuhnya bagi Tuhan dengan menjaga roh, jiwa, tubuh kita, jangan mengandalkan kekuatan manusia, kita mau berkomitmen untuk mempersembahkan waktu yang berharga bagi Tuhan, berbicara dengan Tuhan, mendengarkan suara-Nya, dan memberi karena kita mengasihi Dia 100%.

Rabu, 15 Juni 2011

Pengorbanan




Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya.
Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.

Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi? Ya, tetapi, aku tdk membawa uang, jawab Ana dengan malu-malu

Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu jawab si pemilik kedai. Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. Ada apa nona? Tanya si pemilik kedai. tidak apa-apa aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi ! tetapi ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri, katanya kepada pemilik kedai

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya

Ana, terhenyak mendengar hal tsb. Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia mnguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang.

Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

RENUNGAN:

BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA. SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES ALAMI YANG BIASA SAJA. TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR. PIKIRKANLAH HAL ITU… APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA ?

Selasa, 14 Juni 2011

Si Tukang Kayu dan Rumahnya


Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah  perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikankeinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailahrumah yang diminta.Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. "Ini adalah rumahmu, " katanya, "hadiah dari kami." Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali.Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda. Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Allah, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

(adapted from "The Builder", Unknown, thanks to Cecilia Attal)
"Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri".