Cool Pandan Valley atau Community Of Love Pandan Valley adalah transformasi dari Family Altar (FA) yang adalah komunitas sel dalam GBI Bukit Cimanggu yang berlokasi di Perumahan Pandan Valley, Bogor. Yang mengalami kasih Tuhan. COOL adalah ‘kendaraan baru’ yang diberikan Tuhan kepada jemaatNya agar mampu melintasi bukit-bukit (Yesaya 58:14), yang dimaksud adalah komunitas yang akan dipakai Tuhan untuk membawa dampak bagi lingkungannya. Kerinduan kami adalah mempraktekkan gaya hidup Allah dalam kehidupan sebuah komunitas. Untuk bergabung atau informasi lebih lanjut hubungi kami via email di coolpandanvalley@gmail.com atau add kami di Facebook. Tuhan Yesus Memberkati..!

Senin, 30 Mei 2011

Cinta dan Waktu


Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak: ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.

Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan.

Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku! "teriak Cinta. "Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini."Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.

Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik.

Tak lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!",teriak Cinta. "Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu,"kata Cinta. "Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..." kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya.

Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepatnaik ke perahuku! "Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu. "Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu." kata orang itu. "Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang  mengenalku pun enggan menolongku" tanya Cinta heran. "Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu ..."

Jumat, 27 Mei 2011

Jadwal Cool Bulan Juni 2011

Setiap Langkah Adalah Anugrah


Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana, ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara.

Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi. Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar.

Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu ? tanya sang professor.
Melakukan apa ? tanya Ralph.
Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu ? desak sang professor.
Oh, kata Ralph, selama perang .....
Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal.

Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam . Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah. katanya ........
Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya.

Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini. Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.

Nilai manusia .......
tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup.
Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.
Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP SAAT

Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini.
Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri..

Kamis, 26 Mei 2011

Antara Pisau Bedah dan Lidah



Seorang pria bernama Harry malam itu mengundang temannya yang pekerjaannya adalah dokter bedah untuk makan malam di rumahnya. Sambil memotong kalkun panggang, Harry berkata: “Bagaimana kerja saya dok? Apakah kamu suka dengan tehnik saya? Saya cukup baik bukan sebagai seorang tukang bedah, bagaimana menurutmu?”

Ketika Harry menaruh potongan daging itu di piringnya, dokter bedah itu menjawab pertanyaan Harry tadi.
“Semua orang bisa memotong-motong Harry. Sekarang coba kita lihat, apakah kamu bisa menyatukannya kembali..” ucapnya sambil tersenyum.

Sama seperti pisau bedah, demikianlah lidah manusia. Jika kita tidak handal dalam menggunakannya dan dibekali dengan pengetahuan yang benar, kita lebih sering menggunakan lidah kita untuk melukai orang lain dan memutuskan hubungan yang sebelumnya terjalin dengan baik. Semua orang bisa melakukan hal tersebut, namun yang tersulit adalah bagaimana kita melatih lidah kita untuk memulihkan hubungan yang retak, untuk membalut hati yang terluka dan untuk menyemangati mereka yang telah patah semangat.

Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati. ~ Amsal 15:4

Sumber : Jawaban.com